Gaya Kerudung Tertentu Bukanlah Milik Agama Tertentu

Link ke posting ini
Alkisah, tertawalah saya membaca iklan para jilbaber atau hijaber “Wahabi” mengenai larangan “Jangan mengenakan kerudung seperti biarawati Kristen.”
Maka agaknya perlu sekali saya membahas masalah model-model jilbab ini dalam blog saya karena saya belum menemukan ada yang membahas mengenai gaya-gaya penutup kepala ini. 
Alkisah, Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Tentu saja kadang-kadang atau lebih sering umat Muslimnya tidak terlalu tahu bagaimana jilbab, hijab, kerudung atau penutup kepala dikenakan di luar wilayah Nusantara. Tahukah anda jilbab yang populer akhir tahun 1980an sama seperti jilbab biarawati-biarawati Ortodoks dari Ukraina? Tahukah Anda jilbab model chador yang biasa dikenakan Muslimah-Muslimah di Irak dan Iran (baik Syiah maupun Sunni) adalah gaya yang sebenarnya sama saja dengan gaya jilbab biarawati-biarawati Ortodoks dan Katholik klasik – dan masih dikenakan di beberapa biara?

1. Kerudung/Tudung
Dulu orang yang menutup kepalanya disebut memakai kerudung, atau bahasa Melayunya mengenakan tudung. Mukena atau telekung hanya dikenakan pada waktu sholat, atau lebih tepatnya ia adalah pakaian khusus untuk sholat. Perbedaan dengan  banyak Muslim di tempat lain, di Indonesia Muslimahnya selalu sholat dengan mukena walaupun sudah berjilbab.
Sebelum masa kolonial dan pada masa kolonial, pada umumnya Muslimah hanya mengenakan penutup kepala ketika menjalankan sholat, atau mengikuti pengajian. Sebelum Islam datang, konon para perempuan pribumi Nusantara terutama di pesisir pulau-pulau yang hangat, mereka hanya mengenakan kain, rakyat jelata biasanya berkain dari perut sampai ke kaki alias bertelanjang dada baik lelaki maupun perempuan, sedangkan kaum bangsawan mengenakan kain yang lebih tertutup, menutupi dadanya. Perubahan cara berbusana pun semakin berkembang dengan kedatangan kaum Muslim maupun pedagang dari Barat. Namun demikian, pemakaian penutup kepala seperti halnya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, mungkin lebih memiliki kaitan dengan etnis-etnis pedalaman di China dan Indo-China yang juga bersistem matriarkat. Kita melihat dua model hiasan kepala bangsawan perempuan: di beberapa wilayah seperti Jawa, Bali, modelnya adalah lebih seperti putri-putri di Champa, Thailand dan sekitarnya.
Dengan semakin banyak orang Islam di wilayah Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan negeri-negeri beretnis Melayu, gaya pakaian untuk perempuan yang dikenal sebagai baju kurung mulai lazim dikenakan. Di Jawa dan sekitarnya, busana perempuannya adalah kebaya dan kain. Dapatlah diperhatikan bagaimana gaya busana perempuan antara kaum bangsawan, kaum santri dan rakyat jelata baik model baju kurung, kebaya, kain, sarung, dan lain-lain sangat berbeda.
Kaum santri yaitu istri-istri dan putri-putri para kyai dan yang belajar di madrasah-madrasah atau pesantren-pesantren biasa mengenakan kerudung dari selendang yang dililit, salah satu gayanya dikenal sebagai kowas (saya tidak tahu bagaimana mengejanya) yang masih lazim dikenakan para santri dari sekolah-sekolah PERSIS. Namun, demikian, kaum santri putri ini pada umumnya mengenakan kerudung mereka dengan cukup santai. Maksudnya, mereka tidak mengenakannya di rumah dan sekitarnya, hanya kalau bepergian atau pengajian dan acara-acara di mesjid, misalnya. Kaum santri lokal ini harus sedikit dibedakan dengan putri-putri atau istri-istri imigran dari Arab dan Pakistan, walaupun ada percampuran di antara mereka. Sedangkan Muslimah-muslimah dari golongan bangsawan hanya mengenakannya pada waktu-waktu tertentu saja, mereka biasanya selalu bersanggul sangat rapi. Pagi-pagi sebelum memulai kerja dan lain-lain yang mesti mereka lakukan adalah mengkonde rambut mereka. Kadang-kadang tidak ada batasan yang jelas juga, karena putri-putri bangsawan ada yang menikah dengan kaum santri juga, seperti kyai, sayyid-sayyid atau habib-habib.
Sampai tahun 1970an, masih banyak perempuan muda yang mengenakan kain dan kebaya, maupun baju kurung dan kebaya kurung.  Namun, gaya tersebut semakin tergeser karena semakin banyak yang memperoleh pendidikan “Barat”. Kemeja dengan rok maupun gaun ala tahun 60an, 70an dan seterusnya menjadi lebih lazim dipakai. Pada tahun 1980an, praktis pengguna kebaya dan pakaian “tradisional”, hanya nenek-nenek atau generasi tua. Untuk membandingkan, mahasiswi-mahasiswi HMI (HMI-wati) pada awal tahun 1950an masih mengenakan kebaya dan kain, dan kadang-kadang mengenakan kerudung dari selendeng. Pada akhir tahun 1960an dan seterusnya semakin sering menjumpai mereka mengenakan kemeja dan rok tanpa kerudung sama sekali.
2. Jilbab 
Semenjak tahun 1980an agaknya penggunaan kerudung yang benar-benar tertutup seperti yang sudah biasa dikenakan santriwati-santriwati di pesantren-pesantren tradisional maupun guru-guru dan murid-murid sekolah Muhammadiyah mulai menjadi populer. Kerudung begini kemudian dikenal sebagai jilbab. Kendati istilah “jilbab” sebenarnya berarti semacam pakaian yang menutup dada, dan penutup kepalanya disebut khimar, tetapi evolusi istilah kata jilbab berubah sebagai: bentuk pakaian yang menutup aurat termasuk penutup kepala. 
Walaupun demikian, model-model penutup kepala yang lebih dikenal adalah kerudung dari selendang dengan topi disebut ciput yang tetap memperlihatkan bagian leher. Topi atau ciput ini sebenarnya lebih mirip peci, mungkin terinspirasi oleh gaya berkerudung wanita-wanita Hui dan Uyghur dari China; sementara ciput yang lebih melengkung dan kadang-kadang penuh hiasan lebih banyak terinspirasi oleh gaya kerudung dari Timur Tengah. Model Mesir, Turki, dll biasanya menjadi inspirasi. 
Jilbab dari kain segi empat dan bagian atas yang empat presisinya pas bahkan merupakan model jilbab sudah lama dikenakan oleh biarawati-biarawati Ortodoks di wilayah Eropa Timur.  Bagian atas dengan model kaku itu tidak lagi populer, berganti dengan model lengkung yang lebih cocok untuk berbagai bentuk wajah, dan model ini sampai sekarang masih diminati dan biasa dikenakan.
3. Hijab
Jilbab kemudian menjadi semakin populer, “mewabah” hampir ke seluruh dunia dan di dunia internasional dikenal sebagai hijab. Penggunanya di kalangan Muslim semakin banyak, sehingga kadang-kadang, atau sering, banyak gayanya dianggap eksklusif dari kalangan Islam saja. Dan, bahkan, lucunya lebih sering dibedakan antara yang ini gaya Islam, dan yang itu bukan gaya Islam.
Perkembangan penggunaannya semakin pesat sejak tahun 2000an, di mana bahkan di hampir semua organisasi Islam, kalangan PNS, orang awam, dst para Muslimah pasti mengenakan hijab. Jika dahulu, pada masa nenek saya yang aktivis Aisyiah dan hanya kadang-kadang saja menggunakan kerudung selendang biasa, berjilbab bukanlah keharusan dan bukan semacam prasyarat “kamu adalah perempuan baik-baik”, sekarang jilbab (kerudung tertutup) ditafsirkan sebagai kewajiban yang mutlak dikenakan oleh semua Muslimah (kalau tidak kadang-kadang ditafsirkan, kamu bukan Muslimah yang baik). Hanya sedikit ulama yang berani mengatakan sebaliknya, yang memandangnya sebagai sesuatu yang lebih “longgar” dan “santai” seperti sebelum tahun 1990an. Ulama-ulama yang seperti ini justru dicerca. Muslimah-muslimah yang tidak mengenakannya, bahkan tak sedikit yang kemudian menanggalkan jilbab sebagai pakaian sehari-hari, tidak jarang dicap sebagai feminis dan liberal.  
Maraknya penggunaan jilbab, industri fesyen Islami juga berkembang pesat. Pasar Tanah Abang, misalnya, kini telah menjadi pusat perdagangan pakaian Islami internasional. Indonesia dikenal sebagai pusat mode hijab dunia, kadang-kadang harus diakui perkembangan gayanya jauh lebih dinamis dan kreatif daripada yang di Turki, Mesir dan Iran – Jakarta pun menjadi semacam Milan-nya pusat mode busana Muslim.  Malaysia yang pemakai jilbabnya jauh lebih dulu membudaya dan populer masih kalah jauh dalam hal dinamika fesyen jilbabnya. Hal ini termasuk merebaknya majalah-majalah yang memaparkan mode-mode pakaian Islami. Di panggung hiburan, jilbaber tidak lagi asing. Kalau dulu hanya penyanyi kasidah, kemudian dangdut, pop, bahkan kemudian rock, dan jenis-jenis musik cadas seperti metal. Aktris berjilbab, fotomodel berjilbab, dan bintang iklan berjilbab. 
4. Cadar/Niqab, Burka, dan Chador
a. Niqab atau cadar. Sebenarnya cadar dikenakan sudah lama oleh istri-istri dan putri-putri kalangan Muslim tertentu, biasanya kaum imigran dari Arab, dan sekarang biasa dikenakan oleh golongan Islam yang menganggap dirinya puritan atau murni seperti kaum penganut manhaj salafy. Tetapi, cadar bukanlah hal baru, misalnya  beberapa kelompok Muslimah Persis (Persistri) mengenakannya, atau kalangan syarifah (putri sayyid) tertentu. Ia menutupi bagian mulut, hanya menyisakan mata. Namun perbedaannya, dulu cadar dikenakan dengan warna-warna yang lebih bersahabat dan bahan-bahan yang lebih sesuai dengan iklim Indonesia. Sementara sekarang disebut juga niqab, biasanya hanya dikenakan dengan warna-warna gelap dan satu warna.
b. Burka. Burka tidak pernah ditemukan di Indonesia sampai ramai orang Indonesia dididik oleh Taliban dan kembali ke Indonesia. Burka adalah model hijab “paling ekstrim” karena menutupi seluruh muka, tanpa sisa. Hanya ada kain tipis untuk bagian mata bisa melihat. Masih jarang Muslimah di Indonesia mengenakan burka.
c. Chador. Chador bukanlah cadar. Ia adalah bentuk kerudung asal wilayah Persia (Iran, Irak, dan sekitarnya). Ia berupa kain lebar yang lebih dari 2 meter lebarnya dan panjangnya sesuai ukuran tinggi penggunanya. Ia merupakan kain bagian luar kerudung yang menutupi kerudung bagian dalam. Pada umumnya berwarna hitam, tetapi di beberapa tempat seperti di Abyaneh di Iran, berwarna putih, sehingga terkesan lebih mirip mukena, atau bahkan berwarna-warni. Penggunaannya hanya menutupi sampai dagu. Di Indonesia ia lazim dikenakan oleh para penganut Syiah, walaupun di tempat asalnya ia dikenakan juga oleh kaum Muslim Sunni. Biasanya hanya dikenakan saat solat, kecuali oleh beberapa perempuan tertentu. Sebagaimana di tempat asalnya, hanya kalangan tertentu yang kemana-mana ke luar mengenakan chador yang panjang, semacam simbol-simbol yang membedakan status dan kelas orang-orang. Di tempat asalnya, chador pun berkembang mengikuti zaman, semakin dibuat praktis.
5. Mukena atau Telekung
Mukena atau Telekung adalah pakaian sholat khusus yang dikenakan oleh Muslimah di Indonesia, dan juga tempat-tempat lain di Nusantara. Mungkin terinspirasi oleh bentuk chador yang juga khusus dikenakan saat sholat, di mana dulu kebanyakan missionaris Muslim berasal dari wilayah Persia terutama sejak jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol. Bedanya adalah mukena di Indonesia terjahit rapi. Berbagai gaya:
1. Sebelum tahun 1990an, mukena yang lazim ditemui adalah yang bentuknya langsung, one-piece, sampai ke tangan. Yang ini bahkan lebih mirip chador. Warnanya pasti putih.
2. Setelah tahun 1990an-2000an, kebanyakan mulai lebih digemari adalah yang two-piece, dengan sarung, atau dengan dua bagian yang sama warnanya. Warnanya masih putih, jarang ada yang dibordir, ataupun berhias macam-macam.
3. Setelah tahun 2000an, mukena menjadi semakin bergaya, berwarna-warni, berbordir atau dari berbagai bahan, termasuk kain batik. Yang model one-piece muncul kembali dengan aneka warna, dan bahkan one-piece tanpa kerudung karena orang sudah biasa memakai jilbab — jadi semacam abaya sangat panjang. Dibikin semakin praktis dan bisa dibawa kemana-mana, ringan dan mudah dilipat, lengkap dengan tasnya.
GAYA-GAYA KERUDUNG DAN JILBAB, APAKAH GAYA TERSEBUT HANYA KHAS GAYA JILBAB MUSLIM?
Pada suatu pertemuan dengan adik-adik Kohati (Korps HMI-wati) Cabang Sumedang dalam kajian jilbab, saya memberikan sebuah kuosiener mengenai siapa di antara para pengguna jilbab di kertas yang saya berikan adalah Muslimah dan bukan Muslimah (saya memberikan sejumlah pilihan). Alhasil, kebanyakan peserta melakukan cukup banyak kesalahan membedakan mana yang Muslim dan bukan!
Mari kita menyimak gambaran wajah-wajah Muslimah Indonesia sejak masa kolonial hingga sekarang.
1. Cut Nyak Dhien, bangsawan Aceh dan pahlawan nasional yang tidak memakai kerudung
cutnyakdhien
Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar, pahlawan Nasional
2. Laksamana Keumalahayati, bangsawan Aceh dan juga salah satu admiral perempuan pertama di dunia. Selalu digambarkan hanya menggunakan kerudung dari selendang.
Laksamana Keumalahayati
3. Nyai Siti Walidah, pendiri Aisyiyah, istri Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Selalu dilukiskan mengenakan kerudung dari selendang yang tertutup rapat.
nyaiahmad dahlan
4.  Para aktivis Aisyiyah tempo dulu. Berkerudung dari selendang.
Pendiri Aisyiyah
Aisyiah
para aktivis muda Aisyiyah, termasuk putri KH Ahmad Dahlan, kerudung dari selendang yang seragam.
5. Solichah Hasyim Asy’ari, istri ketua NU. .
Solichah Wahid Hasyim
6. Solichah Saifuddin Zuhri, seorang aktivis Muslimat NU.
Solichah Saifuddin Zuhri
7. Rohana Kudus, pahlawan dari Minangkabau. Masa muda mengenakan penutup kepala khas Minangkabau.
Rohana Kudus Biografi
catatan: penutup kepala khas Minangkabau, atau pun juga dikenakan di pedalaman-pedalaman Sumatera Utara, juga dikenakan oleh etnis-etnis lain.
a. China
Tanduk-Chinois Zhuang001
b. Norwegia
bunad norway voss
c. Biarawati-biarawati Eropa tempo dulu
faculty-of-nuns-wearing-cornetts
d. Perempuan-perempuan Eropa bertanduk
Dublin Core A1
4493125_f260 dutch_school_c_1650_portrait_of_a_nun_holding_a_bible_before_a_crucifi_d5610288h
8. Haji Rasuna Said, pahlawan Nasional. Model kerudung yang paling lazim dikenakan tempo dulu.
hr-rasuna-said
catatan: Model kerudung ini bukan eksklusif dikenakan oleh Muslimah saja.  Model kerudung ini masih biasa dikenakan oleh biarawati-biarawati Katholik Timur dan penganut Ortodoks di Ethiopia.
9. Rahmah ElYunus, pahlawan dari masa kolonial yang mengenakan jilbab panjang lebar, berasal dari kalangan santri di Sumatera Barat.
rahmah-elyunus
catatan: apakah jilbab model ini juga khas hanya dikenakan kaum Muslimah?
belarus nuns
biarawati dari Belarusia
10. Pertemuan Sarekat Islam pada masa kolonial, salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia. Perhatikan peserta perempuannya: tidak mengenakan kerudung sama sekali.
si_tempo_doeloe
11. Demonstrasi para perempuan pada tahun 1953. Masih berkebaya dan kain.
demonstrasi 1953
12. Komite Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928. Perhatikan perbedaan Muslimah dari kalangan santri dan kalangan bangsawan.
conggres
13. Fatmawati Soekarno, dengan kerudung selendang
fatmawati soekarno
15. Korps HMI-wati, underbow Himpunan Mahasiswa Islam. Para perintisnya tidak mengenakan “jilbab” seperti sekarang.
Picture 004 Picture 003
16. Kelompok-kelompok Musik Kasidah, termasuk Nasida Ria dari dekade ke dekade (1970an hingga 1990an)
Qasidah18
nasida ria jadul
nasidaria1980 nasidaria 1990 jilbab tahun 1990an
18. Jilbab era tahun 1980an hingga 1990an
a. Mbak Tutut Soeharto. Putri sulung presiden Indonesia dari sejak 1967-1998 ini dikenal mengenakan kerudung dengan bagian depan rambut terlihat.
tutut s
b. Ibu Hj. Tuti Alawiyah, pendiri ponpes terkemuka dan juga pengusaha ini, gaya kerudungnya pada tahun 1990an.
tuty jadul
c. Sitoresmi Prabuningrat, seniman mantan istri penyair W.S Rendra dalam gaya jilbab tahun 1990an.
sitoresmi sitoresmi2
d. Gaya yang masih dikenakan oleh sejarawan Prof. Dr. Herlina Lubis
Nina-Lubis-1-450x300
e. Aktris era tahun 1980an dan 1990an, Neno Warisman, dikenal sebagai Muslimah yang mempopulerkan gaya jilbab berlapis-lapis. Sebenarnya gaya ini merupakan penyederhanaan gaya chador. 
neno warisman
16. Gaya jilbab akhir tahun 1990an, yakni menjelang tahun 2000an, yang masih populer di kalangan perempuan untuk menghadiri kondangan dan sebagai panitia pernikahan. Antara lain dipopulerkan oleh Inneke Koesherawati dan Ratih Sanggarwati.
inneke k ratih sang
17. Aktivis-aktivis Muslimah dalam berbagai gaya jilbab:
a. Jilbab segi empat yang masih lazim dengan bentuk bagian atas wajah yang kaku, sekitar tahun 1990an
santriwati-santriwati suatu ponpes - sumber: basenik-basenik.wordpress.com
santriwati-santriwati suatu ponpes – sumber: basenik-basenik.wordpress.com
Muhammad le
aktivis Aisyiah
SDM 24
saya dalam seragam SD Muhammadiyah Jakarta, sekitar tahun 1989-1990 (perhatikan bagian atas yang kaku)
Pengurus PB Kohati 1999-2001
Pengurus PB Kohati 1999-2001
b.   Gaya jilbab di awal tahun 2000an
with my housemates2
enam dari sembilan gadis ini adalah aktivis HMI
empatsekawan
tiga dari empat gadis ini adalah aktivis HMI
18. Beberapa contoh aktivis Aisyiah, NU dan Kohati tahun 2000an
aisyiah (1)
Wardanah Muhadi, pernah menjabat sebagai ketua PP Aisyiah.
susilaningsih_kuntowijoyo
Dra Susilaningsih, aktivis Aisyiah. Beliau istri alm. Kuntowijoyo, budayawan Muslim, keduanya alumni aktivis HMI.
khofifah
Khofifah Indar Parawangsa, tokoh NU, politisi cemerlang.
Ketua Kohati PB HMI Fitriani Ismail
Ketua Kohati PB HMI Fitriani Ismail
19. Beberapa contoh muslimah-muslimah yang “tidak mainstream”
Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan presiden dan pemimpin NU, Gus Dur, dengan gaya kerudungnya yang tidak berubah
Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan presiden dan pemimpin NU, Gus Dur, dengan gaya kerudungnya yang tidak berubah
Musdahmulia1
Musdah Mulia, direktur dan salah satu perintis ICRP (Indonesian Conference for Religion and Peace). Muslimah dari kalangan santri di Makassar ini acap kali dicap Liberal bahkan sesat, tetapi ia tetap mengenakan jilbab.
caknur-tante-omi
Cak Nur dan istrinya Omi Komaria, seorang perempuan dari kalangan keluarga santri yang tidak mengenakan jilbab.
yenni wahid
Yenni Wahid, putri Gus Dur ini merupakan generasi muda yang memilih tetap mengenakan kerudung gaya selendang
20. Beberapa contoh penggunaan niqab dan chador di Indonesia
with cousins
niqab biru di tengah-tengah pesta pernikahan, didampingi pemakai gaya jilbab lainnya
ijabi
muslimah syiah dari komunitas Ijabi dengan chador hitam mereka

22. Membandingkan gaya jilbab Muslimah dengan Non-Muslim

Mari kita lihat, apakah ada perbedaan antara para jilbaber dalam berbagai model dengan biarawati-biarawati maupun non-Muslim yang mengenakannya:
A. gaya jilbab bagian atas yang kaku
model jilbab sama ORTHOnuns223
SDM 24
Jilbab Muhammadiyah tahun 1980an-1990an
busenik-busenik13
santriwati-santriwati sebuah ponpes sekitar tahun 1990an, dari busenik-busenik.wordpress.com
-febrianti-hti
tokoh perempuan HTI Febrianti A.
seorang ortodoks biarawati
seorang biarawati ortodoks yunani
sister15
seorang biarawati ortodoks yunani
greeknuns2222
seorang biarawati ortodoks yunani
sister17
seorang biarawati ortodoks
0greeknuns
biarawati ortodoks yunani
b. gaya jilbab dengan bagian atas yang melengkung
serbia nuns221
biarawati-biarawati dari serbia
Mother Irini of Saint Mercurius Convent
Biarawati Koptik
mother katherine
Biarawati Orthodoks
nun2
biarawati ortodoks rusia
rocorunity-blogspot-gethsemaneconvent-the nun
biarawati dari biara gethesemane
tokoh-wirda-hanim
Tokoh Wirda Hanim dari Sumatera Barat
buranovo babushka
kelompok musik Buranovo Babuskha dari Ortodoks Rusia
charedim ultra odtordoks
seorang perempuan Yahudi ultra orthodoks di Israel
Zoroastrians222
Wanita-wanita Zoroaster di Iran
nuns2
biarawati Katholik dari Atlanta, AS
zors3
para penganut Zoroaster di Iran
c. gaya jilbab dengan topi di atas baik di dalam maupun di luar kerudung
Jilbab dengan gaya mengenakan ciput seperti peci yang pernah populer pada tahun 1980an seperti gaya kerudung Tatar, Uyghur dan Hui berikut ini juga dikenakan oleh para biarawati Ortodoks sbb:
Uzbek-Stamp
Uzbek
Bonan-04
etnis Bonan di Cina
Hui-Children
gaya Hui
Tajik-02
gaya Tajik
Tatar-Rusia
topi Tatar
sisterof mercy
Biarawati dari Ordo Sister of Mercy
Ethiopia_Sept_2011_199
Biarawati Orthodoks Ethiopia
Tatar Women With Kalfaks
Muslimah-muslimah Tatar (Rusia), gaya jilbab di tengah dan sebelah kanan yang sempat populer pada tahun 1980an dan 1990an
Kazan_05
gadis Kazan, Tatar
palestinian2
wanita Palestina. Tidak diketahui agamanya
02-nuns-with-patriarch-kirill-st-stefan-makhrishchsky-convent-e1281974056375
Serbia
Ileana Photo0001
biarawati ukraina
Orthodox nuns
Topi biarawati ini mengingatkan saya pada topi kerudung pramugari Ettihad Air dan Royal Brunei
royal brunei
pramugari Royal Brunei
Etihad cabin crew
pramugari Etihad Air
Nuns_of_Novo_Tikhvin_Monastery_in_Ekaterinberg
Biarawati-biarawati dan pastor Ekaterinberg
Sikhism-Amritsar-95
Wanita Sikh dengan surban dan kerudungnya
sikwh
wanita Sikh
d.
Topi bentuk lain:
zen nuns
biarawati di jepang (buddha zen?)
zen nuns2
Gaya jilbab dengan tanpa ciput atau topi dan dalaman, dari kain persegi panjang atau selendang
i. Para jemaat Ortodoks Ethiopia:
ethiopian ortodoks nuns
biarawati ethiopia
ethiiopia orthodokx
orthodoks ethiopia
ethiopian nuns
biarawati ethiopia orthodoks
Biarawati Katholik Kaldea
Biarawati Katholik Kaldea
e. Chador dalam berbagai versi
Gaya biarawati Yunani dan gaya perempuan Iran
iran_0109_350 rick steeves
iran dari rick steeves
biarawati2 yunani
ortodoks yunani
serbia nuns kamri nuns-greek-monastery-li chador-ghajari chador by adam jones chador4
f. Kerudung putih dan warna-warni dalam berbagai versi, yang dikenakan saat solat berjamaah
Biarawati Katholik di India
Biarawati Katholik di India
varzaneh chador
Chador putih Varzaneh
Ethiopia-Ortodoks3
jemaat Ortodoks Ethiopia
Id di IRan 2012
Sholat Id di Iran 2012
Ethiopia-Ortodoks
jemaat Ortodoks Ethiopia
Id di IndoSurabaya
Sholat Id di Indonesia
Mukena Cs Chador
Mukena dan Chador
h. Warna-warni kerudung
with philo-sufis2
wanita-wanita Sufi di Indonesia
Ultra-Orthodox Jewish women at the A World Apart Next Door exhibition in Jerusalem
wanita ortodoks yahudi
abyaneh45
wanita Abyaneh, Iran
Ainun-Habibie
Ainun Habibie, alm. istri dari mantan presiden B.J Habibie
Jilbab wanita Bima, dari sarung
Jilbab wanita Bima, dari sarung, sumber: asrarudin hamid
i. Niqab/Cadar serta burqa di kalangan Muslim dan Yahudi Ultra Ortodoks
burqa
Burka, hasil jepret Gendis Rere Danerek
ultraorthodokx
burka yahudi
veil91590948
burka arab
yemen_jews
niqab yahudi
Penutup:
Mereka mengklaim jangan menggunakan model jilbab tertentu karena menyerupai orang Kristen ataupun orang Yahudi karena itu sesuai dengan hadis yang menyatakan kira-kira berbunyi: janganlah engkau meniru-niru suatu kaum…Jadi, sebenarnya siapa yang meniru?
Penulis:
Penulis artikel ini adalah pengguna kerudung, tidak anti dengan apapun model kerudung. Jika tiba musim dingin atau melalui jalan berdebu, tidak akan ragu-ragu menggunakan cadar.  Sekian dan terimakasih. 
OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Midodaremi MyPicBadge nuns pinky @villaICdisukabumi 1Aku-1 1-Aku Kazan Tatar Indonesia 2 blue in green akuHMI2

Read more ...